DMCA.com Protection Status BAHAN KULIAH HUKUM ONLINE

Kamis, 06 Agustus 2015

FILSAFAT ILMU PART V: STRUKTUR DAN KONSEP DASAR ILMU



I.          KONSEP DASAR ILMU
A.   Pengertian ilmu dapat dirujukkan pada kata ‘ilm (Arab), science (Inggris), watenschap (Belanda), dan wissenschaf (Jerman). (Imam Syafi’ie, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: UII Press, 2000))
B.     R. Harre menulis ilmu adalah a collection of well-attested theories which explain the patterns regularities and irregularities among carefully studied phenomena, atau kumpulan teori-teori yang sudah diuji coba yang menjelaskan tentang pola-pola yang teratur atau pun tidak teratur di antara fenomena yang dipelajari secara hati-hati. (R. Harre, The Philosophies of Science, an Introductory Survey (London: The Oxford University Press, 1995))
C.    Pengetahuan yang dapat disepakati sehingga menjadi suatu “ilmu”, menurut  Archie J. Bahm dapat diuji dengan enam komponen utama yang disebut dengan six kind of science, yang meliputi problems, attitude, method, activity, conclusions, adedidikiraawan dan effects. (Archie J. Bahm, What’s Science, (TTP: TP, TT))
D.   Seringkali ilmu diartikan sebagai pengetahuan, tetapi tidak semua pengetahuan dapat dinamakan sebagai ilmu, melainkan pengetahuan yang diperoleh dengan cara-cara tertentu berdasarkan-kesepakatan para adedidikiraawan ilmuwan. (Dawam Raharjo, “Ilmu, Ensiklopedi al-Qur’an”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 4. Vol. 1, Jakarta, 1090)
E.    Akhirnya Ilmu dapat didefinisikan : Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif  dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan atau individu untuk tujuan mencapai  kebenaran, memperoleh pemahaman adedidikiraawan, memberikan penjelasan ataupun melakukan penerapan. (The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberty,Yogyakarta,1991)
F.    HAKEKAT ILMU
1.    Aktivitas sebagai proses
2.    Metode sebagai prosedur
3.    Pengetahuan sebagai Produk
G.   Ilmu Sebagai Aktivitas
1.    Rasional: Proses pemikiran yang berpegang pada kaidah-kaidah logika
2.    Kognitif: Proses pengetahuan dan memperoleh pengetahuan
3.    Teknologis: Mencapai kebenaran,Memperoleh pemahaman, Memberikan penjelasan dan Melakukan penerapan dengan melalui peramalan atau  pengendalian adedidikiraawan
H.   ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH
1.    Pola prosedural: Pengamatan,Percobaan,Pengukuran,Survey,Deduksi,Induksi,Analisis            dan Lainnya
2.    Tata langkah : Menentuan Masalah, Perumusan Hipotesis (bila Perlu),Pengumpulan Data,Penurunan Kesimpulan dan Pengujian Hasil
3.    berbagai teknik: Daftar pertanyaan,Wawancara, Perhitungan, Pemanasan dan Lainnya
4.    Aneka alat: Timbangan, Meteran, Perapian, Komputer, adedidikiraawan Lainnya
I.      ILMU SEBAGAI PENGETAHUAN ILMIAH (PRODUK)
1.    Segi Obyek Pengetahuan: Obyek Material dan Obyek Formal
2.    Segi Sifat Pengetahuan: Empiris,  Sistematis, Obyektif, Analitis dan Verifikatif adedidikiraawan
J.     DIMENSI ILMU
              1.     Cabang Ilmu: Dimensi ekonomik, Dimensi linguistic, Dimensi matematis, Dimensi politik Dimensi psikologis dan Dimensi sosiologi
              2.     Pengetahuan reflektif abstrak: Dimensi filsafati dan Dimensi logis
              3.     Aspek realitas: Dimensi Kebudayaan, Dimensi sejarah, adedidikiraawan Dimensi kemanusiaan, Dimensi rekreasi, Dimensi sistem dan Dimensi lainnya
K.    STRUKTUR ILMU
1.    Obyek Ilmu :Obyek Material (Ide Abstrak, Benda Fisis, Jasad Hidup, Gejala rohani, Peristiwa sosial dan Proses tanda) Obyek Formal
2.    Bentuk Pernyataan: Deskripsi, Preskripsi, Eksposisi Pola dan  Rekonstruksi historis
3.    Ragam Proposisi: Asas Ilmiah, Kaidah Ilmiah dan Teori Ilmiah
4.    Ciri Pokok: Sistematisasi, Keumuman, Rasionalitas, adedidikiraawan Obyektifitas, Varifiabilitas, dan Komunalitas
5.    Pembagian Sistematis
L.     PENGGOLONGAN PENGETAHUAN ILMIAH
1.    Ragam Ilmu:Ilmu teoritis dan Ilmu Praktis
2.    Jenis Ilmu: Ilmu Matematis, Ilmu Fisis, Ilmu Biologis,adedidikiraawan Ilmu Psikologis, Ilmu Sosial, Ilmu Linguistik dan Ilmu Interdipliner

Sabtu, 13 Juni 2015

FILSAFATT ILMU part IV : konsep kebenaran,KARL RAIMUND POPPER,THOMAS S. KUHN,PAUL FEYERABEND,IMRE LAKATOS




I.          KONSEP KEBENARAN
A.   Juliene Ford (1975): Kebenaran mempunyai 4 makna:
1.    Kebenaran diartikan/maknai sebagai kebenaran empiris à oleh para ilmuwan
2.    Kebenaran sebagai sebuah claim, klaim dalam bentk hipotesis/hipotesa atau prediksi (mengafirmasi atau menolak sesuatu)
3.    Kebenaran dimaknai sebagai jika sesuatu itu konsisten dengan alam (nature)
4.    Kebenaran dimaknai sebagai apa yang tersaji/tampak, apa yang dapat dilihat itu yang benar
II.          APA ITU KEBENARAN
Kebenaran adalah kenyataan adanya (being) yang menampakan diri sampai masuk akal. Kebenaran pertama-tama berkedudukan dalam diri si pengenal (subyek). Kebenaran diberi batasan sebagai penyamaan akal dengan kenyataan, yang terjadi pada taraf indrawi maupun akal budi, tanpaadedidikirawan pernah sampai pada kesamaan sempurna, walaupun kebenaran sempurna itu yang dituju dalam pengalaman manusia. Ilmu empiris memegang peranan penting dalam usaha mengejar kesamaan tersebut. Kebenaran ilmu bersifat sementara.
III.          BENAR DALAM ILMU EMPIRIS
A.   Correspondence theory of truth, persesuaian antara si pengenal dengan apa yang dikenal. Tokohnya: Herakleitos, Aristoteles, Thomas Aquinas. Alurnya sbb.
B.    Coherence theory of truth, kebenaran sebagai keteguhan. Tokohnya: Phytagoras, Parmenides, Spinoza, dan Hegel.
C.     Pragmatic theory of the truth, kebenaran terwujud atau tampak dalam praktek ilmu. Tokohnya: Charles Peirce (1839-1914), William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952).Bila hasil materi ilmu pengetahuan maupun hasil spiritual agama berdaya upayaadedidikirawan, maka terlaksanalah kebenaran à kebenaran sebagai tempelan, Benar sebagai dibenarkan”.
D.   Performance theory of truth, kebenaran terlaksana dalam ungkapan manusia. Sebutan benar atau salah dimaksudkan untuk mengadakan kalimat benar dan salah itu, sebagai kalimat yang benar dan yang salah.  Salah berarti tidak berarti sama sekali. Benar berarti bahwa benar, tepatlah sesuatu itu.
IV.          KARL RAIMUND POPPER (1902).
A.             Masalah “makna” dan “tidak bermakna”
“makna” dan “tidak bermakna” diganti dengan apa yang disebut garis batas atau demarkasi antara ungkapan “ilmiah” dan “tidak ilmiah”. Dimana garis batasnya? Garis batasnya adalah pada “ada tidaknya dasar empiris” dari ungkapan tersebut. Ungkapan “tidak ilmiah” bisa saja bermakna (meaningful). Suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak, tidak dapat ditentukan berdasarkan azas pembenaran yang dianut positivisme logis. Peralihan dari yang partikular ke yang universal itu, secara logis tidak sah. Pembenarannyaadedidikirawan harus menggunakan Prinsip Falsifiabilitas, harus dibuktikan salah (it can to be falsified) à (note: bandingkan dengan cara-cara silogisme) Contoh:“Orang tidak dapat sampai pada kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tapi cukup dengan satu kali observasi terhadap seekor angsa berwarna hitam untuk menyangkal pendapat di atas, betapun besarnya jumlah angsa berwarna putih”.Hukum ilmiah berlaku, bukannya dapat dibenarkan, melainkan dapat dibuktikan salah”. Dengan cara di atas ilmu pengetahuan berkembang maju.
B.     Prinsip falsifikasi:
1.                     Bila suatu hipotesa telah dibuktikan salah, maka hiptesa itu ditinggalkan dan digantikan oleh hipotesa baru
2.     Bila hanya salah satu unsur hipotesa yang dibuktikan salah (ditunjuk ketidakbenarannya), sedangkan inti hipotesa dapat dipertahankanadedidikirawan, maka unsur hipotesa tadi ditinggalkan, dan digantikan dengan unsur baru (diperbaiki). Hipotesa tersebut disempurnakan, walaupun tetap terbuka untuk dibuktikan salah.
3.     Suatu teori baru akan diterima kalau sudah ternyata bahwa ia dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujian kekuatan teori itu dilakukan melalui suatu tes empiris, yaitu tes yang direncanakan untuk membuktikan salah (menunjuk ketidakbenarannya, kesalahannya) apa yang diujinya (memfalsifikasi – difalsifikasi). Kalau dalam tes tersebut, sebuah teori terbukti salah (tidak benar), maka teori tersebut akan dianggap batal. Sedangkan teori yang lolos dan bertahan dalam tes tersebut akan diterima sampai ditemukannya cara pengujian yang lebih ketat. Dengan demikian pengetahuan maju bukan karena akumulasi pengetahuan, melainkan lewat proses eliminasi yang semakin keras terhadap kemungkinan kekeliruan dan kesalahan à pengetahuan maju/berkembang dengan cara error elimination terus-menerus. Bukan hanya hipotesis, tapi juga hukum dan teori yang bisa kalah dalam proses falsifikasi. Dan hukum, teori, hipotesis itu akan ditinggalkan. Ternyata tidak ada suatu ungkapan, hipotesa, hukum, maupun teori ilmiah yang bersifat definitif. Segala pengetahuan ilmiah bersifat sementara, maka terbuka untuk dibuktikan salah. Jika tidak begitu, maka ilmu akan merosot menjadi ideologi, yakni bersifat tertutup (Karl R. Popper: The open society and its enemy). Bahwa selama suatuadedidikirawan hipotesa, hukum, teori tahan (dapat bertahan) dalam upaya falsifikasi, selama upaya itulah hipotesa, hukum, teori tersebut diperkokoh (IS CORROBORATED).
C.    Dimana letak sistem ilmu pengetahuan (hipotesa, hukum, teori) itu?,              Popper membedakan 3 dunia, Adalah (1) kenyataan fisis dunia,(2) Segala kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia, (3)Segala hipotesa, hukum teori ciptaan. Manusia dan hasil kerja antara dunia 1 dan dunia 2, serta seluruh bidang ipoleksosbud. Dunia 3 hanya ada selama dihayati yaitu dalam karya dan dalam penelitianadedidikirawan ilmiah, dalam studi, membaca buku, dalam ilham yang mengalir dalam diri seniman. Dunia 3 dihayati dan mengendap dalam bentuk fisik alat-alat ilmiah, buku-buku, karya seni, dan kitab suci.
V.          THOMAS S. KUHN
Terjadinya perubahan-perubahan mendalam dalam ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah suatu teori, sistem, hukum, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah.Ilmu berkembang bukan secara kumulatif (seperti dijelaskan Karl R. Popper), tetapi ilmu berkembang secara revolusioner. Konsep sentral Kuhn adalah PARADIGMA. Paradigma merupakan cara pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktik ilmiah konkrit. Paradigmalah yang membimbing kegiatan ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science), dimana ilmuwan berkesempatan menjabarkan dan mengembangkan paradigma adedidikirawansecara rinci dan mendalam. Pada saat ilmu normal, ilmuwan tidak bersifat kritis terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiah .Kemudian, dalam menjalankan riset, ilmuwan menemukan, menjumpai berbagai fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan teorinya. Disinilah terjadi Anomali. Anomali kian menumpuk, kualitas kian tinggi, maka timbul krisis. Dalam krisis, paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. à ilmuwan keluar dari ilmu normal. Untuk mengatasi krisis, ilmuwan kembali pada cara-cara ilmiah sambil mengembangkan paradigma tandingan yang bisa memecahkan masalah dan membimbing riset berikutnya. Jika paradigma tandingan itu terjadi, maka terjadilah Revolusi Ilmiah. Dalam revolusi ilmiah terjadi proses peralihan komunitas ilmiah, dari paradigma lama ke paradigma baru. Peralihan paradigma tidak semata-mata karena alasan logis – rasional, tapi mirip seperti pertobatanadedidikirawan dalam agama . Kesimpulannya adalah: Menurut Kuhn, ilmu tidak berkembang secara kumulatif dan evolusioner, tetapi ilmu berkembang secara revolusioner.
VI.          PAUL FEYERABEND
Pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak bisa diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan, sistem dan hukum. Upaya semacam itu sia-sia dan tidak sesuai dengan kenyataan. Perkembangan ilmu terjadi karena kreativitasadedidikirawan individual, maka satu-satunya prinsip yang tidak menghambat kemajuan ilmu pengetahuan ialah ANYTHING GOES. Tidak ada keteraturan dalam perkembangan ilmu, apalagi diwujudkan dalam sistem, hukum, atau teori. Sebab, situasi dan realitas dalam ilmu pengetahuan itu amat kompleks à maka tidak mungkin mengandalkan perkembangan ilmu pada suatu metodologi atau hukum manapun.                 Dalam menjalankan riset, sebaiknya ilmuwan tidak dibatasi oleh metode-metode yang ada. Ilmuwan harus bebas. Kegiatan ilmiah atau ilmu pengetahuan adalah suatu upaya yang ANARKISTIK. Ilmu pengetahuan harus membebaskan, ia tidak boleh menguasai atau memperbudak manusia. Itu sebabnya harus ada kebebasan Individu, sehingga dalam aktivitas pencarian/pengembangan ilmu harus terjadi penyingkiran segala kungkungan metodologis. Sebab, ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya bentuk pengetahuan yang paling unggul dibandingkan bentuk-bentuk lainnya. Tidak ada superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Sikap otoriter ilmu tidak dibenarkan dalam bentuk apapun.         akibatnya, adedidikirawanilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. Makna dan interpretasi tentang keterangan (evidence) observasi tergantung kepada konteks historis.
VII.          IMRE LAKATOS
Lakatos mempertemukan gagasan Thomas S. Hun dan Karl R. Popper. Bukan teori tunggal yang harus dinilai sebagai ilmiah atau tidak ilmiah, melainkan rangkaian teori-teori. Rangkaian teori-teori itu sendiri, satu sama lain dihubungkan oleh suatu kontinuitas yang menyatukan teori-teori tersebut menjadi program riset. Kontinuitas teori-teori memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu. Masalah pokok yang berhubungan dengan logika penemuan tidak bisa dibahas secara mememuaskan, (bila) kecuali dalam kerangka metodologi program-program riset.
Aturan-aturan Metodologi, aturanadedidikirawan metodologi dapat dibedakan menjadi dua.
A.   Aturan metodologi yang memberitahukan cara atau jalan yang harus dihindari (Heuristik Negatif);
B.    Aturan metodologi yang memberitahukan cara atau jalan yang harus dijalankan/dilalui (Heuristik Positif).
Heuristik positif merupakan inti pokok program riset, yang dilindungi dari ancaman falsifikasi, yakni lapisan pelindung berupa hipotesa-hipotesa pendukung, kondisi-kondisi awal, dan sebagainya.Lapisanadedidikirawan pelindung inilah yang harus menanggung serangan, pengujian, penyesuaian, perubahan, atau pergantian demi mempertahankan inti pokok. Keberhasilan dan kegagalan program riset.
(1) Suatu program riset berhasil bila menghasilkan perubahan problema progresif
(2)Suatu program riset gagal jika menghasilkan perubahan problema yang justru merosot
Merosot atau meningkatnya perubahan problema itu ditentukan oleh peningkatan atau kemerosotan perubahanadedidikirawan empirisnya (empirical growth). Program riset yang menang adalah program yang mampu mengembangkan isi empiris lebih besar dan derajat koroborasi (pengukuhan) empirisnya lebih tinggi.

Kamis, 11 Juni 2015

FILSAFAT ILMU part 3: konsep,hipotesis,perkembangan teori ilmu




I.          Konsep
Berkenaan dengan pengertian secara lengkap tentang sesuatu.Misalnya: Arti dari Mahasiswa,Karyawan,Manajer,Komputer,Jurusan teknik elektro,Bayi,Remaja,Sesuatu yang sama bisa saja memiliki uraian konsep yang berbeda karena perbedaan bidang ilmu, aliran, atau pakar
Dicari dari literatur; memerlukan diskusi
II.          Konstruk
Berkenaan dengan besaran abstrak yang dikonstruksi oleh para pakar; uraian tentang pengertiannya secara lengkap.Misalnya:Sikap,Minat,Inteligensi,Kepemimpinan,Agresivitas,Status sosial ekonomi.Dapat berbeda pengertiannya karena perbedaan,Bidang ilmu,Aliran/paham, Pakar.Dicari melalui literatur; memerlukan analisis dan sintesis
Analisis dan sintesis pada konstruk
          Variabel (konstruk)
          Literatur               literatur                       literatur
               .                           .                                              .
               .                           .                                              .
               .                  Analisis (urai)             .
               .                           .                                             .
               .                           .                                             .
               .                   Diskusi (bahas)       .
               .                           .                                             .
              .                           .                                              .
               .                   Sintesis (gabung)                    .
               .                            .                                            .
               .                            .                                            .
                                          konstruk
                        (sesuai dengan konteks kita)
    III.            Data dan Sekor
Data:Catatan hasil pengamatan atau pengukuran yang obyektif, berbentuk, Deskripsi,Numerik:Memerlukan alat ukur yang valid dan dapat dipercaya hasil ukurnya
      Sekor;Angka atau bilangan pada atribut dari subyek yang diperoleh melalui aturan tertentu (pengukuran) Numerik:Memerlukanadedidikirawan alat ukur yang valid dan dapat dipercaya hasil ukurnya
IV.          Perangkat Ilmu Aturan Ilmu
    1.     Masalah. Masalah adalah rumusan pertanyaan ilmiah yang memerlukan jawaban (biasanya belum terjawab atau jawaban yang ada masih diragukan).Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya serta diakhiri dengan tanda tanya (?).Berisikan variabel yang biasanya berkaitan dengan; variabeladedidikirawan yang  mengandung  atribut serta responden pemilik atribut,pertanyaan  tentang perbandingan  variabel, atau pertanyaan  tentang ketergantungan  variabel
    2.     Hipotesis. Hipotesis adalah rumusan pernyataan ilmiah sebagai jawaban terhadap masalah serta masih memerlukan pengujian empiris.Rumusan hipotesis harus sepadan dengan adedidikirawanrumusan masalah (supaya dicocokkan).Biasanya dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan
a.    Hipotesis Induktif. Dari data diduga (dicurigai) ada keterkaitan di antara variabel sehingga ingin dipastikan melalui pengujian hipotesis (statistika). Data harus sangat banyak dan representatif. Setelah hipotesis teruji, barulah data digunakan untuk digeneralisasi, sebab-akibat, ditemukan teorinya
b.    Hipotesis Deduktif. Dari  premis mayor (teori, hukum, asumsi) dan premis minor (kasus yang dipertanyakan di dalam masalah) dengan armentasi (logika) ilmiah dihasilkan keterkaitan variabel. Hipotesis ini diuji secara empiris (sering melalui sampel dan diinferensi ke populasi)
3. Proposisi. Proposisi adalah istilah umum untuk pernyataan ilmiah yangadedidikirawan memiliki kemungkinan benar (true) dan palsu (false). Hipotesis adalah suatu bentuk proposisi; demikian juga dengan hukum, teori, dan pernyataan ilmiah lainnya
    4.     Aksioma dan Asumsi. Aksioma adalah suatu pernyataan yang diterima tanpa pembuktian serta dapat digunakan sebagai dasar (premis) untuk deduksi. Asumsi sama dengan aksioma. Digunakan pada logika, matematika, atau ilmuadedidikirawan
Beberapa Contoh Aksioma
Benda yang sama-sama sama dengan benda yang sama adalah sama satu terhadap lainnya
              X = A         dan       Y  =  A
              maka  X = Y
Jika sama ditambahkan kepada sama, maka jumlahnya adalah sama
                     X   =   Y
                +   A        A
                --------------------
              X + A   =   Y + A

Hanya ada satu garis lurus yang menghubungkan dua titik yang diketahui
                       A  ---------------------------- B
Jika suatu titik O bergerak dari A ke B sepanjang suatu garis lurus AB, maka O harus melewati suatu titik yang membagi AB ke dalam dua bagian yang sama besarnya
               --A-----------------0-----------------B--
Beberapa Contoh Asumsi
          Asumsi dari Aristoteles
     Benda berat jatuh lebih cepat dari benda ringan
     Benda yang bergerak akan berhenti dengan sendirinya
     Alam semesta terbuat dari tanah, air, udara, api, dan unsur kelima (quintessential)
          Asumsi Ptolemaeus
     Semua benda langit beredar mengelilingi bumi dalam bentuk lingkarran
          Asumsi Determinisme
     Di dalam alam ada sebab-akibat
     Di dalam alam ada keteraturan
          Asumsi Empirisisme
     Ada pengalaman, klasifikasi, kuantifikasi, hubungan, serta pendekatan ke ke kebenaran
5. Postulat.Postulat adalah pernyataan yang diterima tanpa pembuktian dan dapat digunakan sebagai premis pada deduksi. Ada yang menyamakan postulat dengan aksioma sehingga mereka dapat dipertukarkan. Ada yang berpendapat bahwa ada harapan bahwa pada suatu saat postulat dapat dibuktikan. Contoh Postulatadedidikirawan :
          Postulat Geometri
      Dengan mistar dan jangka,dapat dilukis garis lurus dari suatu titik ke titik lain,dapat dihasilkan garis lurus terhingga dengan sebarang panjang,dapat dilukis lingkaran dengan sebarang titik sebagai pusat dan jari-jari sebarang panjang
Postulat Ekivalensi Massa
Hukum lembam Newton menggunakan massa lembam, m
                                 G  =  ma
Hulum gravitasi Newton menggunakan massa gravitasi, m dan  M. Postulat: massa lembam m  = massa gravitasi  m (dapat diterangkan oleh Einstein)
Postulat Robert Koch (berupa etiologi spesifik)
mikroba tertentu menyebabkan penyakit tertentu (setelah Pasteur menemukan mikroba)dengan kata lain: setiapadedidikirawan penyakit disebabkan oleh satu sebab mikroba tertentu
6. Dalil dan Hukum Ilmiah
Dalil (theorem) biasanya digunakan pada matematika, hukum pada ilmu alam
   (a) Dalil hungan tetap di antara besaran
        Contoh:





(b) Hukum Ilmiah
                Aturan tentang hubungan tetap di antara
                besaran yang teramati di antara benda atau
                peristiwa
                Ungkapan umum untuk memaparkan
      Fakta umum untuk keteraturan di dalam alam
      Hubungan di antara peristiwa
      Hubungan di antara variabel
                yang teruji atau dapat diuji kebenarannya
         Hubungan invarian (matematik atau statistik) di antara konsep  ilmiah  (ada kalanya dapat dituangkan ke dalam bentuk rumus)
Bentuk hubungan pada hukum ilmiah
Ada beberapa macam bentuk
          Ciri atau sifat
     mis. Zat terdiri atas molekul
          Ruang-waktu terdiri atas 4 dimensi
          hubungan korelasi atau ketergantungan
          hubungan sebab akibat
          urutan tak berubah
     mis. Urutan siang dan malam
Contoh Hukum Ilmiah
          Hukum Boyle
          Pada gas dengan temperatur tetap
                        pv = konstan
          Hukum Snellius
          Pada pantulan cahaya
                        sudut pantul = sudut masuk
          Hukum Avogadro
          Di dalam satu gram-mol zat terdapat
                        6. 1023 molekul
          Hukum Konversi Massa-Tenaga
                        E  =  m c2
Jenis Hukum dilihat dari Sumber
          Hukum teoretik. mengacu kepada sesuatu atau ciri yang tidak dapat diobservasi secara langsung. mis. Hukum Avogadro tentang jumlah molekul. di dalam satu gram-mol
          Hukum empirik. generalisasi yang mengacu kepada obyek atau ciri yahg dapat diobservasi secara langsung. misadedidikirawan. Hukum Boyle tentang tekanan dan volume gas. ada kalanya berbentuk pendekatan (approximation).
Jenis Hukum dilihat dari Ketepatan
          Hukum universal. menunjukkan keteraturan yang berlaku tanpa perkecualian. mis. Hukum Newton. gerak komet, gerhana, dapat diprediksi dengan kecermatan tinggi
          Hukum statistik. menunjukkan keteraturan menurut suatu persentase tertentu (berdasarkan probabilitas). mis. Prediksi cuaca, keluruhan inti atom uranium. dapat melakukan prediksiadedidikirawan dengan kecermatan agak rendah
Penemuan Hukum (dan Teori)
       segera diakui (penemu partikel W langsung memperoleh hadiah Nobel)
       ditolak dulu, baru kemudian diakui (temuan ion oleh Svante Arrhenius)
       baru diakui setelah penemunya meninggal (hukum Mendel)
       penemunya lebih dari seorang di tempat lain (telepon)
       diterima tetapi  kemudian ditolak (bumi datar)
Di beberapa cabang ilmu, penemuan yang hebat memperoleh hadiah
7. Prinsip atau Asas
Hukum yang mendasar pada cabang ilmu. Contoh: Asas Indeterminisme Heisenberg (1928). Pada partikel subatomik terdapat indeterminisme; secara teoretis, kalau massa terukur tepat, maka kecepatan tak bisa terukur tepat, kalau kecepatan terukur tepat, adedidikirawan maka masa tidak bisa terukur tetap. ada celah ketidakpastian. kecil sekali yakni dalam orde konstanta Planck seukuran
                     6,626. 10-34
V.          Perangkat Ilmu Penjelasan Aturan
A.   Pengertian Teori Ilmiah. Ada sejumlah pengertian tentang teori ilmiah, mecakup, strutur sistematik yang luas, dihasilkan oleh imaginasi manusia, mencakup serumpun hukum empirik (pengalaman) tentang keteraturan yang ada pada obyek dan peristiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak. Teori ilmiah disusun untuk menjelaskan hukum secara ilmiah, sajian sistematik tentang hubungan seperangkat variabel,penjelansan tentang gejala,maksud dasar ilmu melalui perolehan teori yang memberi penjelasan ayng sah tentang gejala alamiah dan lain-lain
Teori Menurut Kerlinger, teori adalah seperangkat konstruk [konsep], definisi, dan proposisi yang saling berhubungan yang menampilkan pandanganadedidikirawan sistematik dari gejala dengan jalan menspesifikasikan hubungan di antara variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksti gejala itu.
Teori Menurut Mouly. Suatu sistem teori harus memungkinkan deduksi yang dapat diuji secara empirik, Teori  harus cocok dengan observasi dan dengan teori yang sudah tervalidasi, Teori harus dinyatakan dengan cara sederhana (parsimoni).
B.    Perbedaan Hukum dan Teori. Pada hukum, aturan penamatan cukup jelas, sehingga hukum dapat langsung diuji. Pada teori,  sebagian besarnya mungkin saja tidak teramati; teori dapat menjelaskan hukum. Misal: Hukum Boyle dengan teori dinamika gas. Hukum Boyle. pv = konstan pada temperatur tetap. Teori Dinamika.gas terdiri atas molekul yang bergerak dan membentur dinding (- -> tekanan) volume diperkecil, benturan molekul k dinding makin hebat (--> tekanan naik). Beberapa Hukum dan Teori. hukum Archimedes, hukum Boyle,          hukum Newton, hukum Snellius, hukum Mendel, adedidikirawan hukum Bernoulli, hukum Pascal, hukum Ohm. Teori gravitasi, teori  relativitas, teori  kinetika (dinamika) gas, teori kuantum, teori elektromagnetik, teori ion, teori Maslow
C.    Teori sebagai Realitas atau Instrumen. Teori dapat dianggap sebagai suatu  realitas; apa yang diteorikan memang betul-betul ada,misalnya, teori molekul, apakah molekul betul ada?. Teori dapat juga dianggap sebagai instrumen untuk menjelaskan (instrumental). misalnya, teori molekul, tidak menjadi soal apakah molekul betul adaadedidikirawan atau tidak, yang penting sebagai alat, teori berguna untuk menjelaskan dan dibunakan sebagai premis
D.   Parsimoni,Teori dikontrol oleh parsimoni yakni harus yang paling sederhana (pisau cukur Ochkam).
E.    Model atau Paradigma. Secara luas,  paradigma adalah semua bentuk yang biasa kita gunakan sehingga menjadi model dari kehidupan kita. Secara sempit, model atau paradigma adalah bentuk contoh guna mempermudahadedidikirawan pemahaman tentang sesuatu (konsep, hukum, atau teori
F.              Wujud Paradigma, model fisik (maket bangunan, manekin), model matematika (rumus), simulasi (planetarium)
VI.          Perangkat Ilmu Pandangan terhadap Teori
A.   Pandangan terhadap Teori. Ada kalanya teori tidak lagi cocok dengan keadaan tertentu. Ada kalanya teori baruadedidikirawan muncul sebagai saingan terhadap teori lama.Bagaimana sikap kita terhadap teori yang dapat mengalami hal-hal seperti ini
B.    Perkembangan Beberapa Teori. Teori bumi datar, sudah ditinggalkan orang, diganti dengan bola dunia. Teori geosentris, sudah ditinggalkan orang, diganti dengan heliosentris. Teori eter, adedidikirawan sudah diuji, ternyata tidak ada. Teori phlogiston, sudah ditinggalkan orang
C.    Perkembangan Beberapa Teori
1.    Teori Cahaya Huygens. Cahaya adalah gelombang, bagus menerangkan pantulan, refraksi, dan sejenisnya; untuk tiba dari matahari ke bumi, dianggap ruang tidak hampa tetapi berisi eter (nilai teori ini tinggi)
2.    Teori Cahaya Newton: Cahaya adalah pancaran partikel, tidak bisa menerangkan pantulan, refraksi, dan sejenisnya (nilai turun); kemudian dapat menerangkan fotoelektrik yang tidak bisa diterangkan oleh teori gelombang (nilai teori naik lagi)
3.    Teori Cahaya Kuantum: Cahaya adalah partikel yang bergelombang (gelombang elektromagnetik--EM); cahaya berubah-ubah dari medan EM ke fotonadedidikirawan dan sebaliknya
4.    Teori Hampa. Aristoteles dan cendekiawan Yunani Kuno beranggapan bahwa tidak ada hampa. Torricelli dengan tabung air raksa, menunjukkan adanya hampa. Dengan teori E = m c2, apakah ruang hampa tidak berisi E sehingga tidak hampa.
5.    Teori Newton. Tidak cocok untuk planet Uranus. Ditemukan planet Neptunus yang mengganggu gerak Uranus sehingga tampak tidak cocok dengan teori Newton
6.    Teori Paritas. Dianut oleh fisikawan Kemudian ditinggalkan karena tidak cocok
D.   Ilmuwan dan Teori. Ilmuwan dapat menganut suatu teori dan dapat juga meninggalkannya. Ada kalanya teori  yang sudah ditinggalkan bangkit lagi dan dianut lagi oleh ilmuwan. Di sini, dilihat pandangan dari Popper, Lakatos, dan Kuhn terhadap teoriadedidikirawan
E.    Kebenaran Teori. Kita tidak dapat mengatakan teori itu benar atau tidak benar; yang dapat dikatakan bahwa teori itu masih cocok untuk menerangkan gelaja yangadedidikirawan teramati. Teori dapat ditinggalkan orang karena orang menganut teori lain; tetapi dalam keadaan tertentu, orang dapat kembali ke teori yang telah ditinggalkan
VII.          Perangkat Ilmu Falsifikasi Popper
A.   Karl Raimund Popper (1902). Penyusunan teoriadedidikirawan berlangsung melalui “imaginasi kreatif” manusia, dan bukan melalui induksi. Teori adalah spekulatif, falsifiabel (bisa palsu), sehingga perlu diuji secara ketat Pengujian dapat terjadi berulang kali, tanpa batas.
B.    Falsifikasi. Untuk menjadi bagian dari ilmu, hipotesis, hukum, teori harus memiliki kemampuan untuk palsu. Kepalsuan akan tampak manakala ada amatan logis yang tidak cocok dengan hipotesis, hukum, teori. Hipotesis, hukum, teori yang tidak memiliki kemampuan untuk palsu, bukan bagian dari ilmu
1.    Contoh tidak bisa falsifikasi. Psikoanalisis Freud. Ketika ada orang menenggelamkan anak ke air, hal ini dapat diterangkan dengan alasan depresi. Ketika ada orangadedidikirawan menempuh bahaya menolong anak itu dari ari, hal ini diterangkan dengan alasan sublimasi. Jadi psikoanalisis ini bisa menerangkan hal yang berlawanan, sehingga tidak pernah bisa salah. Ini bukan bagian dari ilmu.
2.    Contoh falsifikasi. Relativitas Einstein. Dengan teorinya, Einstein menghitung lenturan cahaya karena melewati daerah dekat massa matahari. Diuji padaadedidikirawan gerhana matahari tahun 1919, ternyata cocok. Kalau hitungan Einstein tidak cocok dengan kenyataan maka teori Einstein keliru.
C.    Derajat Falsifiabel. Makin umum atau makin luas cakupan suatu teori, makin mudah teori itu mengalami kasus ketidakcocokan, sehingga derajat falsifiabel menjadi tinggi, Contoh: (A) Planet Mars mengedari matahari menurut elips, (B) Semua adedidikirawanplanet mengedari matahari menurut elips, Derajat falisfiabel (b) lebih tinggi dari dari derajat falsifiabel (A) Derajat falsifiabel menjadi ukuran keluasan atau keumuman suatu teori Suatu teori makin baik jika derajat falsifiabelnya makin tinggi.
D.   Modifikasi Ad Hoc. Kalau teori tidak cocok dengan suatu kenyataan, maka teori itu dimodifikasi ad hoc. Modifikasi ad hoc adalah modifikasi kecil dan sering tidak diuji lagi
E.    Modifikasi. Dapat juga teori yang tidak cocok dengan kenyataan dimodifikasi. Modifikasi berukuran lebih besar dan diuji lagi. Melalui modifikasi, teori yang bertahan, bisa terus bertahan; kalau tidak bertahan, teori itu bisa ditinggalkan orang. Contoh: Hukum Newton pada planet Uranus.
F.    Contoh Modifikasi Ad Hoc. Nasi, Nasiadedidikirawan menyehatkan orang, Kalau di suatu tempat orang sakit karena makan nasi, maka dibuat modifikasi ad hoc, Kecuali di tempat itu, nasi menyehatkan orang. Permukaan bulan, Menurut Aristoteles, bulan bulat sempurna, Setelah diteropong, permukaan bulan bergunung, maka dibuat modifikasi ad hoc, Permukaan bulan ditutup oleh zat yang tak tampak di teropong; bulan tetap bulat sempurna. Phlogiston, Dulu pembakaran dan karatan dianggap terjadi karena di dalam zat ada phlogiston (bakar), Phlogiston keluar terjadi kebakaran atau karatan, sehingga zat menjadi ringan, Ada kasus karatan, zat bertambah berat; perlu dimodifikasi ad hoc,Ada phlogiston positif dan negatif
G.   Bertahan dan Lenyap. Hipotesis, hukum, atau teori dapat bertahan (terus dianut orang) atau lenyap (ditinggalkanadedidikirawan orang). Bertahan, Karena selalu cocok dengan pengalaman; tidak ada kasus yang tidak cocok, Karena setelah dimodifikasi, tidak ada lagi kasus yang tidak cocok
H.   Lenyap. Karena sering tidak cocok dengan pengalaman, Karena setelah dimodifikasi, masih saja tidak cocok dengan kenyataan ,Karena bersama ketidakcocokan, muncul teori baru yang menjadi lawannya.
VIII.          SEJUMLAH PERTANYAAN TENTANG TEORI
A.   Apa yang dimaksud dengan teori ?   Hanya ada stu macam saja teori itu, atau beberapa macam? Adakah teori yang tidak benar, atau apakah semua teori itu benar?
B.     Apa yang diartikan dgn kebenaran teori atau kebenaran ilmiah? Jika pasti memang ada, apa kriterianya? Apakah kebenaran teori atau ilmiah tentang sesuatu soal, hanya ada satu atau bisaadedidikirawan lebih dari satu? Tetap, pasti, atau dapat berubah?
C.     Teori atau pernyataan ilmiah yang benar itu diperoleh atau ditemukan dengan cara-cara kerja bagaimana? Dengan metode logis deduktif, atau empirik-induktif, atau harus reduktif, atau semuanya sekaligus?
D.    Apa syaratnya bagi sesuatu pernyataan itu untuk dapat diterima sebagi teori atau pernyataan ilmiah, atau pernyataan kebenaran ilmiah
E.    Siapa yang punya otoritas menilai mutu dari sesuatu teori itu? Penemu pertama, kelompok para akhli, atau setiap orang yang mengerti dan berkepentingan+
F.     Apakah tiap pernyataan yang benar itu memuat kebenaran ilmiyah? Apa sesungguhnya kebenaran itu, apa bedanya antara kebenaran dengan pemikiran logis-rasional, atau dengan ketepatan, kesesuaiaan dengan sesuatu kaidah
G.    Apakah kebenaran itu obyektif, terdapat dan melekat pada obyek atau pada data tenang obyek, ataukah kebenaran itu suatu interpretasi yang paling tepat yang disimpulkan para ahli mengenai obyek ybs? Apa pula syarat bagi interpretasi yg demikian tu?
H.    Apakah kebenaran itu akhirnya sesuatu yang nyata (reality), yg faktual, adakah realita yang tak faktual, yang tak dialami langsung secara fisik? Adakah sesuatu kebenaran atauadedidikirawan realita lain, selain yang faktual?
I.       Adakah metode lain untuk menguji suatu ketepatan hipotetikal sebagai kebenaran sementara, selain uji statistik dan uji signifikansinya?
J.      Jika kluster dan datanya tidak (berasal dari sampel atau populasi) normal dan homogin, jika perilaku sampel tidak tetap melainkan berubah terus-menerus, jika perilaku populasi begitu ompleks dan mendekati kesemrawutan (chaos), uji statistik mana yg masih ampuh?
K.     Lalu apa fungsi, egunaan atau manfaat teori itu yang sebenarnya, untuk epuasan mental saja, untuk menjadi dasar sesuatu model, untuk dasar sesuatu desain untukadedidikirawan jadi dasar bagi kebijakan, bagi operasi/perilaku sesuatu RLS (Real Life System) untuk dasar kontrol dan evaluasi operasi/perilaku RLS?

IX.          PASCA POSITIVISME: SATU VISI TENTANG TEORI
KARL POPPER TERKENAL DENGAN METODE UJI TEORI, MENJELASKAN SOAL FALSIFIKASI DALAM BUKUNYA The Logic of Scientific Discovery tahun 1959 Pokok-pokok pikiranya:
A.   Pengetahuan dapat dianggap bernilai. ilmiah jika obyektif dan teoritikal, yaitu dapat mengungkapkan yang esensial dari dunia yang telah dan dat diobservasi;
B.     Ada kecocokan atau kesesuaian antara pernyataan teori tentang dunia yang diobservasi;
C.    Nilai atau mutu dari pernyataan ilmiah bersifat probable, yaitu tentang suatu ketepatan yang mungkin, yang sementara, bukan yang pasti dan tetap, karena ia dianggap tepat selama belum dapat dibuktikan yang berlainan, berbeda, atau bertentangan;
D.    Nilai atau mutu dari sesuatu pernyataan ilmiah harus terbuka untuk dikaji dan diuji dari beberapa sudut oleh para pakar lain, berkali-kali atauadedidikirawan terus-menerus sehingga mencapai bukti-bukti yang menyanggahnya;
E.     Cara kerja yg tepat ialah metode deduktif dengan membuat dalil umum dalam bentuk premis atau hipotesis yang berfungsi sebagai lampu pencari (search light), yang dengan bantuan data faktual dapat diturunkan ke proposisi partikularnya
F.    Menggunakan metode induktif murni tidaklah tepat. Cara kerja induktif harus ditolak, arena aan menghasilkan premis atau hipotesis pertikular;
G.    Metode uji verifikasi juga harus ditolak, karena dianggap tidak memadai untuk menemukan nilai ilmiah baru;
H.    Untuk memajukan nilai ilmiah, yang lebih tepat ialah metode uji falsifikasi sebagai kriteria pengontrol dan pengujinya
X.          THOMAS KUHN The Structure of Scientific Revolutions (1962, 19700). Paradigma, krisis, revolusi ilmiah, pra-paradigma, ilmu normal, dan anomali adedidikirawan
Tahap I:   Ilmu dengan teori yg pra-paradigmatik
Tahap II: Ilmu normal tatkala dari fakta dan kesimpulannya berkembang teori-teori yg bersaingan, maka mengemukalah suatu teori yg mendapat
Tahap III: dengan bekerja kerasnya para ilmuwan lain itu, ditemukan ada anomali,
Tahap IV; Jika anomali dapat dipecahkan denganadedidikirawan teori baru, dengan presisi lebih tinggi yg mengandung daya prediktif lebih mapan,
XI.          PHILOSOPHY OF SCIENCE: SIR KARL POPPER
Popper has devoted much of his career to answering the questions: What is science? How is science performed? Although these questions may at first seem easy to you, consider such areas as astrology and Marxism. Could these approaches be considered scientific? Why not?
     Falsificationism is the name given to Popper’s description of how science is performed. Falsificationism suggests that science should be concerned with disproving or falsifying theories through logic based on observation. How is this accomplished? First, a scientist must create a consistent falsifiable hypothesis. A falsifiable hypothesis is one that can be shown to be false. For example, the hypothesis “It will rain in Tuscaloosa, Arizona, on Tuesday, December 23, 1997” is a testable hypothesis. Likewise the hypothesis “All objects regardless of weight will fall to earth at approximately the same speed” is a testable hypothesis. However, a hypothesis such as “ESP (extrasensory perception) exists” is an untestable hypothesis. Even the hypothesis “Gravity exists” is untestable. It may be true that both ESP and gravity exist, yet adedidikirawanuntil the hypothesis is stated in a form that can be falsified, the hypothesis is not testable. Second, once a scientist has a falsifiable hypothesis, the task is to develop a test of the hypothesis. Third, the hypothesis is tested. Fourth, if the hypothesis is shown to be false, a new bold hypothesis is developed.
XII.          Perangkat Ilmu Program Penelitian Lakatos.
A.   Imre Lakatos. Ilmu adalah program penelitian terstruktur, dan bukan trial and error. Penganut suatu teori melindungi teorinya dengan sabuk pengaman. Kalau ada ketidakcocokan, penganutnya akan membela dengan berbagai alasan. Anomali, kesalahanadedidikirawan observasi, gangguan pada observasi, kesalahan ukur, . . .
B.    Heuristik. Lakatos mengemukakan heuristik positif dan negatif. Heuristik positif adalah hal yang dianjurkan untuk dilakukan. Heuristik negatif adalah hal yangadedidikirawan dianjurkan untuk tidak dilakukan (termasuk tidak langsung menolak teori anutan yang tidak cocok dengan kenyataan).
XIII.          Contoh Pelindung
A.   Pada Astronomi Ptelomaeus. Gerak planet maju mundur, Pelindung: ada gerak episiklus. Demi parsimoni, beralih ke teori Kopernikus.
B.    Pada Teori Newton. Leverrier menemukan bahwa gerak planet Uranus tidak cocok dengan teori. Pelindung: ada benda pengganggu. Galle menemukan planet Neptunus sebagai pengganggu.
C.    Pada Gelombang Cahaya. Bagaimana gelombangadedidikirawan cahaya melewati ruang hampa. Pelindung: ada zat eter di dalam ruang “hampa”. Ternyata eter tidak ada; Maxwell menunjukkan bahwa gelombangnya adalah elektromagnet.
XIV.          Sistem Geosentris dan Ptolemaeus menyebabkan gerak planet maju mundur.  Pelindung melalui pembuatan episiklus.








A.   Fakta Baru. Program penelitian (teori) memiliki karakeristik sama yakni dapat memprediksi fakta baru Contoh: Prediksi Halley tentang kembalinya komet 72 tahun kemudian,Prediksi Einstein tentang terlihatnya bintang diadedidikirawan balik matahari ketika gerhana matahari, Prediksi Mendeleyev (melalui tabel periodik) tentang sifat unsur yang belum ditemukan
B.    Progresif dan Degeneratif. Program penelitian (teori) progresif menghasilkan fakta baru (yang belum diketahui); ada kalanya memerlukan waktu lama,Program penelitianadedidikirawan (teori) degeneratif hanya menampung fakta yang sudah diketahui; bisa ditinggalkan orang.
XV.          PHILOSOPHY OF SCIENCE: IMRE LAKATOS
     Imre Lakatos suggests that the important advances in science are made through the adherence to research programs. By saying this, Lakatos means that science is more than following trial-and-error hypotheses. A research program is the examination of aadedidikirawan number of major and minor hypotheses concerning a topic. Some examples Lakatos gives of research programs are Newton’s theory of gravity, Einstein’s relativity theory, and the theories of Freud.
     An important point, specifies Lakatos, is whether the research program is progressive or degenerating. How do you tell the difference? The main characteristic of a progressive research program is that it predicts novel facts. Thus a progressive program leads to the discovery of new facts, whereas a degenerating program only interprets known facts in light of that theory. By this he means that a degenerating research program only explains the results of already existing experiments, whereas a progressive research program leads one into new directions and predicts new facts. In this way, Lakatos proposes thatadedidikirawan science changes not by sudden revolutions, as Kuhn suggested, but through the replacement of degenerating research programs with progressive ones.
XVI.          Perangkat Ilmu Paradigma Kuhn
Thomas S. Kuhn, Melihat teori sebagai struktur terorganisasi. Struktur teori berbentuk paradigma. Teori bisa mengalami krisis sehingga dapat saja diganti oleh teori lawannya. Paradigma Kuhn menurut Larry Laudan, Pertama dan terutama Paradigma memberikan kerangka konseptual untuk mengklasifikasikan dan menjelaskan obyek alamiah, Kedua Paradigma menspesifikasikan metoda, teknik, dan alat yang layak di dalamadedidikirawan inkuiri untuk mempelajari obyek pada wilayah aplikasi yang relevan Ketiga Penganut paradigma berbeda akan mendukung perangkat tujuan dan ideal yang berbeda.
A.   Teori Normal dan Teori Revolusioner. Teori normal (Teori yang digunakan menurut paradigma serta dianut oleh seluruh komunitas). Krisis (Jika muncul banyak anomali, maka teori normal mengalami krisis). Teori revolusioner (Paradigma tandingan yang dapat mengatasi anomali). Penggantian teori (Dalam keadaan tertentui, teori revolusioner dapatadedidikirawan saja menggantikan teori normal; kemudian teori revolusioner ini menjadi teori normal (sampai krisis lagi) dan berlangsung secara siklus)
B.    Pergeseran Paradigma. Ilmuwan dapat saja berpindah dari paradigma (teori) ke paradigma (teori) lain. Contoh: Teori panas. Teori phlogiston (dianut oleh Priestly). Bergeser ke teori oksigen (Lavoisier dan Dalton). Bergeser lagi keadedidikirawan teori tenaga (Joule).
C.    PHILOSOPHY OF SCIENCE: THOMAS KUHN
     When Newton said, “I stand on the shoulders of giants,” he was referring to those  individuals who came before him and on whose work he was able to build his scientific system. Many of us have similar ideas when it comes to the progression of science. Weadedidikirawan think that each new discovery is simply added to old discoveries with the result being a gradual accumulation of knowledge.
     In 1962, Thomas Kuhn suggested that this view is wrong. Kuhn proposed that science actually goes through a series of revolutions. Following each revolution, a new system or method for performing science is instituted. The new system or world view is referred to as a paradigm or set of assumptions, which guide scientific activity until aadedidikirawan new revolution and paradigm shift take place. The stable period between revolutions is referred to as normal science. Normal science is the process of problem solving, which most of us think of when someone uses the term science. Normal science for Kuhn is always science performed in relation to a particular paradigm.
     As an example of the role of paradigms, assume you were a mapmaker before the time of Columbus. You would draw your map as if the world were flat, since that was the accepted belief. You, as a adedidikirawanmapmaker, would never think to question this belief; it was a given in your task of drawing maps. Then in the Middle Ages, there was there was the mapmaker’s version of a scientific revolution.